Syahar Banu

Sabtu, 05 Agustus 2017

Cita-Cita

Aku pernah punya cita-cita. Tapi butuh waktu panjang untuk tahu bahwa cita-citaku terlalu kecil.

Saat masih usia di bawah 10 tahun, aku bercita-cita jadi penjual roti. Penjual roti di sini bukan a la Holland Bakery maupun merk terkenal lain. Tapi penjual roti Putri yang berjualan di jalanan macet Bekasi-Jakarta.

Jadi, saat SD kelas 2 di Bekasi, aku sempat putus sekolah. Bapak dan ibu ikut komunitas agama dengan ada Nabi di dalamnya. Ajaran Nabi saat itu, anak-anak yang sekolah itu bagaikan diceburkan orangtuanya ke comberan. Tak hanya itu, semua orang dewasa yang awalnya punya pekerjaan tetap di berbagai kantor juga berganti haluan kerja sebagai tukang roti. Ada yang ngasong di jalan, dan ada yang produksi. Merk rotinya saat itu adalah Roti Putri.

Para ibu bersama-sama membuat dapur umum untuk makan bersama karena semua penghasilan diatur berdasarkan managerial sang Nabi. Karena ketaatan akan risalahnya, orangtuaku termasuk satu dari ratusan jamaahnya saat itu.

Saat ditanya soal masa depan dan cita-cita, karena doktrin dan lingkungan sekitar, aku menjawab, "jualan roti Putri."

Rabu, 19 Juli 2017

Hancur

Gadis itu telah mengalami banyak hal di dalam hidupnya. Namun ternyata, di dalam dirinya masih tersimpan sesuatu yang naif dan membuatnya percaya bahwa suatu hari nasib baik akan menyembuhkan lukanya.

Pikiran naifnya mulai bertanya-tanya, "kenapa ya, ada orang yang menyakiti orang lain yang tidak pernah menyakitinya? Rasanya dalam kasus ini, balas dendam itu lebih logis daripada menyakiti seseorang yang tak melakukan kesalahan apa-apa pada orang lain."

Lalu pikiran rasional bilang, "Hey, gadis bodoh. Orang jahat itu seringkali tak punya alasan untuk melakukan kejahatannya. Bahkan barangkali, seseorang jahat karena ia tidak tahu kalau yang dilakukannya itu jahat dan akan membabat habis pertahanan hidup seseorang."

Entahlah ia ini seorang Kantian atau Hobbes. Tapi ia masih menyimpan banyak pertanyaan soal, "mengapa kamu tega begini," dan "mengapa kamu melakukan itu..."

Yang jelas, hal paling menyakitkan dari pengkhianatan adalah, dia yang menyakiti kita adalah seseorang yang sama sekali bukan musuh.

Rasanya, di sekelilingmu ada banyak oksigen. Tapi nafasmu tetap sesak. Ada yang salah dengan kemampuan bernafas yang selama ini dimiliki.

Mungkin perasaan ini disebut patah hati karena kita benar-benar merasa ada organ di dalam dada yang terasa nyeri. Seperti ada yang sedang patah dan terinfeksi pelan-pelan sehingga sakitnya menguasai seluruh tubuh hingga membuatnya terlalu lumpuh untuk bangkit.

Ada banyak tempat di dunia, tapi rasanya segala sesuatunya jadi sempit.

Syahar Banu 2017. Theme by Etestheme. Header by Falaqie Nila.