Selasa, 14 Januari 2014

Ketika Memunggungi Mimpi

Ia meminum  kopinya yang kedua sambil berbicara tentang perjalanannya berkelana dari satu daerah ke daerah lainnya yang tampak menyenangkan. Ia menunjukkan hasil tangkapan kameranya untuk melengkapi deskripsi tentang kota yang ia kunjungi dan memperagakan beberapa mimik wajah serta dialeg warga setempat yang menarik perhatiannya.

Aku mendengarkan sampai akhirnya ia bertanya apa yang bisa aku ceritakan.

Tidak banyak hal yang bisa aku ceritakan padanya selain tentang buku terakhir yang aku baca beserta tulisan-tulisan yang dipublikasikan atau tulisanku yang terbenam di dalam draft blog ku. Aku merekomendasikan beberapa buku dan artikel yang menurutku cukup penting untuk dibaca. Sebelum ia menganggap aku memaksanya membaca, aku buru-buru menambahkan, "Jika sempat saja."

Ia menyondongkan tubuhnya dan menatapku, "Kawan, bermimpilah sampai ke langit. Sampai bintang-bintang. Agar kalaupun kau jatuh, jatuhnya pun ke bulan."

Aku berpikir, lebih tinggi mana, bintang atau bulan? Bagaimana jika bintang letaknya lebih rendah dari bulan. Siapa tahu? Aku tiba-tiba menyesal karena tidak mempelajari astronomi dengan baik.

"Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita. Semesta akan berhimpun untuk membuat mimpi-mimpi kita terwujud."

Aku memandangnya dan mencoba memastikan bahwa aku tidak sedang berada di salah satu adegan dalam film Laskar Pelangi atau Negeri 5 Menara. Aku sudah siap kalau ada kalimat "man jadda wa jadda" dalam dialog ini. Tampaknya tidak ada. Kemudian aku menggeleng, "Aku tak ingin seperti itu kawan."

"Bayangkanlah, bayangkan... Jika kakimu menjejak Amerika kelak. Keliling Eropa. Melintasi Timur Tengah. Menjelajahi seluruh Afrika. Bagaimana perasaanmu jika bisa menaklukan itu semua? Bermimpilah sebanyak-banyaknya. Mumpung bermimpi gratis, janganlah tanggung-tanggung bermimpi."

Aku kini yakin sedang mendengar kawan-kawan Ikal dalam Laskar Pelangi sedang berbicara.

Ia menggeser duduknya, tersenyum dan menekuk kedua lengannya di dadanya. Tampak kedinginan. Tapi bersemangat.

"Begini, jika aku punya kehidupan yang harus aku pilih, aku ingin menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran. Dengan mata yang waspada."

Hening sejenak. Aku melanjutkan, "Bagiku, hanya orang tertidur yang bermimpi. Aku ingin hidup dengan utuh. Merasakan dengan sadar setiap langkah kaki. Merasakan nafasku dengan penuh penerimaan, rasa syukur dan kewaspadaan. Aku pikir, itu semua tidak dapat dilakukan sambil tertidur supaya mencipta mimpi."

"Bagaimana mungkin hidup tanpa mimpi? Hidup itu perlu proyeksi kawan."

"Aku masih punya harapan dan doa." Kataku cepat. Lalu aku menambahkan, "Rasanya memang hanya itu yang aku punya. Aku sedang mencoba mengasah, atau barangkali aku masih pada tahap perlu mengisi amunisi. Suatu hari jika aku siap, aku akan memasuki lagaku. Bukankah hidup ini antara pertarungan dan perjuangan? Saat ini aku hanya ingin mengurus apa yang harus aku urus, membaca dan menulis sebanyak-banyaknya. Jika mungkin, aku ingin abadi lewat tulisanku. Bukan lewat potretku yang ada dimana-mana. Jika ini disebut proyeksi, inilah proyeksi ku. Tapi, aku tidak ingin disebut sedang bermimpi."

"Kau tidak ingin berkeliling dunia sepertiku? Berbicara di depan orang banyak dalam sebuah konferensi?"

"Aku ingin tulisanku saja yang berkeliling dunia. Atau setidaknya, ideku. Suatu hati nanti. Entah kapan."

Ia mengerutkan dahi dan memicingkan mata. Itu ekspresi khasnya saat meragukan ucapan orang lain.

"Jadi kabar yang aku dengar benar, kalau kau akhirnya tidak jadi mendaftar beasiswa ke Amerika itu?"

"Tidak. Eh, maksudku, iya. Aku memang tidak mendaftar." Kataku, sambil tersenyum dan menggeleng.

"Kenapa?"

"Nanti saja. Suatu hari. Kalau ingin. Kalau sudah menuntaskan banyak bacaan dan tulisan untuk dibagi. Otakku belum mampu berjalan terlalu jauh apalagi berbicara di depan orang banyak tentang sedikit hal yang aku ketahui. Dan aku pikir, setiap orang punya jalannya masing-masing dalam memenuhi konsekuensi logis pengetahuannya. Oh iya, silakan bermimpi jika ingin. Aku juga akan menghargai kok."

Rintik hujan mulai ramah untuk dilintasi. Ia menghabiskan kopinya dan merapatkan jaketnya. Aku lupa membawa jaket.

Ia membereskan kamera, sertifikat, paspor yang tadinya ia tunjukkan padaku sebagai perangkat bercerita. Setelah itu, aku dan dia pamit. Kita menyadari perdebatan di masa lalu tentang hidup dan masa depan masih berlanjut. Namun, diatas segalanya, kita masih berjanji untuk saling mendukung satu sama lain. 

Aku perhatikan, ia tidak mencatat judul artikel yang aku rekomendasikan. Aku paham, ia memang tidak berminat membacanya. Aku ingat, dulu ia selalu mencatat detail segala sesuatu dan bahkan mencatat hal penting dalam diskusi kita seperti layaknya sebuah notulensi rapat. Kata dia, "Aku pelupa, jadi, setidaknya aku bisa memikirkan diskusi ini saat di rumah nanti."

Aku memandang langit yang pekat sambil berpikir tentang semua pembicaraan tadi. Kehujanan sedikit bukanlah penderitaan yang berarti. Karena berkat Sapardi, hujan jadi sesuatu yang romantis. Pertemuan tadi juga membuatku jadi agak melankolis. Seperti sebuah penegasan, -ternyata ada hal lain yang tidak kita sepakati lagi-.

Jika hujan memang datang setiap hari begini, semoga mereka yang terlanjur memarkir mimpinya di langit, bintang-bintang dan bulan akan tetap baik-baik saja. Semoga kamu, dan dengan segalanya, juga baik-baik saja. Sampai bertemu di persimpangan, jika memang ada persimpangan diantara kita kelak.


Mampang Prapatan, 14 Januari 2014

Kamis, 09 Januari 2014

Hampir Gila karena We Chat

“Saya nggak jadi nikah mbak, dia sekarang sudah dilamar orang.” Ujarnya. Sambil menyodorkan sate padang pesanan saya.

Aroma sedap dan kepulan asap dari panggangan sate menguar ke sekitar jalan Tegal Parang yang dilintasi banyak kendaraan bermotor. Penjualnya sibuk mengatur lembaran daun pisang dan menaruhnya sedemikian rupa hingga tertata rapi di piring plastik ukuran kecil. Tangan kirinya beralih ke deretan tusukan sate mentah yang tertata di etalase gerobak, mengambil segenggaman lalu dipindahkan ke panggangan yang berasap. Tangan kanan dan kirinya tampak mahir berkoordinasi memindahkan tusukan sate dari  panggangan ke panci yang berisi kuah, membubuhkan minyak goreng ke sate yang akan dipanggang dan merapikan letak arang yang membara. Tangan kanannya sudah tahu kapan harus memegang kipas dan kapan harus berganti memegang pisau untuk mengiris ketupat, memberikan kuah, lalu menyodorkannya ke pelanggan.

Dia berdiri di sisi belakang gerobak. Kursi plastik sederhana berjajar dibelakangnya. Ponsel pintar yang biasanya mengalunkan lagu-lagu minang itu kali ini tidak bersenandung.

Lelaki yang akrab disapa dengan Uda ini menceritakan perkenalannya dengan seorang wanita asal Tasikmalaya yang ia temui di jejaring We Chat. Pertemuan lewat sarana chatting tersebut  berujung pada keakraban yang membuat mereka sepakat pacaran jarak jauh lewat jejaring chatting yang iklannya sempat gencar di televisi tersebut. Sejak awal berkenalan dan akhirnya kopi darat, gadis pujaannya sudah menanyakan tentang pernikahan.

“Saya memang orang Minang, tapi Mamak saya tidak masalah jika saya akhirnya menikah dengan suku Sunda. Lagipula, umur saya sudah 25 tahun. Sudah waktunya menikah.”

Ketika saya tanya lebih jauh tentang keluarganya, ia malah berkata, “Sebenarnya gila saya ini mbak. Ngawur malah. Masak saya hampir mengorbankan gerobak sate padang saya buat cewek yang cuma ketemu di We Chat dan baru ketemu langsung sekali. Bahkan sekarang saya malu kalau sempat patah hati karena itu.”

Antrian pembeli sate padang tidak membuatnya terganggu untuk terus bercerita, “Dia bilang, saya harus pindah ke Tasikmalaya kalau menikah sama dia. Saya sudah memikirkannya. Bahkan saya hampir menjual gerobak ini untuk diganti gerobak buah di Tasikmalaya. Barangkali prospek berdagang sop buah lebih bagus daripada sate padang. Karena saya juga jenuh. Sate padang hasilnya memang lumayan. Tapi gampang basi. Setelah saya hampir mantap untuk berpindah, mungkin cinta memang tidak bisa menunggu mbak. Dia keburu dilamar orang. Mungkin keadaan dia yang didesak keluarganya juga memang sulit. Saya tidak menyalahkan dia.”

Ia mengambil ponsel pintarnya, menunjukkan menu di layarnya kepada saya, “Cek aja nih mbak. Saya sudah uninstall we chat sekarang. Memang rasanya sepi. Tapi setiap kali saya membuka We Chat, saya jadi ingat dia. Tahun baru kemarin saya nggak jualan untuk menyembuhkan sakit hati mbak. Dia maupun saya memang tidak ada yang salah. Tapi kita yang akhirnya nggak bisa bersama ini juga cukup berat. Makanya, tahun baru kemarin saya nggak jualan mbak. Saya butuh waktu untuk diri sendiri dulu.”

Saya mendengarkannya. Malam beranjak larut. Jam masih menunjukkan pukul 8 malam, Uda masih harus berjualan sampai pukul 12 malam nanti. Kali ini, ia sepertinya memang hanya ingin berbagi, sehingga tidak membutuhkan nasehat apapun dari saya. Saya pamit setelah membayar sepiring sate padang.  Sambil berharap, Uda menemukan ketegarannya lagi.